istirahatlah kata-kata

18a8686c-04f8-4cf2-9b14-704f18136c3a_169-1

Film yang ditayangkan pertama kali di Locarno International Film Festival di Swiss ini pada pertengahan 2016 lalu, dan pada akhirnya mulai tanggal 19 januari 2017 film yang mengisahkan tentang seorang penyair bangsa ini dihadirkan di beberapa kota besar di Indonesia.

Ada rasa kelegaan seusai menonton film ini, kelegaan karena biografi film Wiji Thukul diolah, dimasak, dan disajikan dengan kesederhanaan yang rapih dan cukup. Tidak kurang, tidak lebih. Rasa cukup yang terbayarkan setelah menantikan film ini, yang sempat terdengar isu tidak bisa ditayangkan di tanah air atau akan ada banyak potong memotong dari lembaga sensor.

‘Istirahatlah Kata-Kata’ mengisahkan Wiji Thukul yang kita tahu beliau adalah seorang penulis yang puisinya banyak menyiratkan dan meneriakkan hak rakyat terutama kaum buruh dan warga miskin di era orde baru, namun film ini hanya menyajikan satu atau dua scene saja yang menunjukkan seorang Wiji tengah menulis puisi-puisi perjuangan, selebihnya puisi-puisi beliau ditampilkan menjadi narasi-narasi yang membuat film ini terasa semakin puitis dan emosional.

Yosep Anggi Noen sang sutradara menghadirkan banyaknya shot panjang yang menjadikan film ini terasa teatrikal. Di beberapa adegan, kita seperti berada di depan sebuah panggung teater dan menyaksikan para aktor tampil dengan beberapa dialog spontanitasnya mengalir begitu saja.

Film ini ditutup dengan kita dibuat merasakan absensi Wiji yang tidak hilang begitu saja, kita seperti dibuat sadar secara perlahan namun kita juga dibuat ikut merasakan kepiluan dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan dengan ketidak jelasan akan ada dan tiada, hidup atau mati seorang suami, bapak, teman dan pejuang. Fajar Merah sang putra Wiji menyanyikan lagu ‘Bunga dan Tembok’ bersama bandnya ‘Merah Bercerita’ dan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) sebagai lagu penutup.

Buat saya film ini seperti teh tawar hangat diantara kemegah-megahan film biografi Indonesia yang begitu-begitu saja, Istirahatlah Kata-Kata membuat saya mencoba mengenal kembali sosok Wiji Thukul yang membayar mahal untuk demokrasi dan kebebasan bersuara yang kita dapat di negara ini sekarang. Terima kasih di manapun engkau berada nyanyian akarmu akan terus menguat di tanah ini 🙂

*related post: bunga dan tembok , istirahatlah kata-kata

mild high club

mildhighclub

Spacey things with smooth psychedelic, jazz and funk touchie. Mild High Club would make you want to listen the “Skiptracing” album while dream of the imagery sequences in observatory’s planetarium.

 

surrey with the fringe on top

I just can’t stop listening to this song. Am so deeply in love Dearie. ker-plop!

 

istirahatlah kata-kata

getget (1)get (2)

‘Istirahatlah Kata-Kata’ or its international title ‘Solo, Solitude’, a story tells about a missing poet, Wiji Tukul. Whose words are often yelled proudly by the crowd during political protests. He who was forced to leave his family after being targeted by the government following anti-Suharto, pro-democracy protests in July 1997. In May 1998, Wiji Thukul is declared missing, a month before Suharto is deposed by his own people.

The movie was screened for the first time in Locarno International Film Festival, Locarno, Swiss. Yosep Anggi Noen as a director, he mentioned that it will be screened into Indonesia movie scene soon.

*related post: bunga dan tembok

tiga dara 4k

13886460_10154455387214329_7408373478933017047_n

Usmar Ismail’s Tiga Dara is my all time favorite movie since I was a kid. The last time in 2012, I had a chance to re-watched this movie in Museum Bank Mandiri for ‘Lajar Tanjep’ which’s held by Ade Poernama. That time, the quality of the film was pretty bad, it got scratch everywhere, dirty, and dust. The sound was awful.

Few months later on June 2012, Lewat Djam Malam, another Usmar Ismail’s masterpiece got an opportunity to be screened in cinemas after a year restoration process in Laboratorium L’Immagine Ritrovata, Bologna, Italia. I wished Tiga Dara would also have a chance one day.

In 2015, my wish came true, ‘Tiga Dara’ won a golden ticket to get restorated at the same laboratory with its brother ‘Lewat Djam Malam’. After 17 months process, the movie finally has been screened start from few days ago on 11 August 2016 in cinemas.

The 4k quality is fantastic, it’s pretty clear and clean, the sound’s amazing. I can see all my favorite scenes clearly. Can’t wait for the Blu-ray DVDs released on next year.

*related post: tiga dara

yellow magic carnival

Enjoy every moment, expect nothing, appreciate everything, and listen Tin Pan Alley 🙂

kikagaku moyo

10439392_740509816065838_8938443481175830385_n

Kikagaku Moyo are a psychedelic rock band from Tokyo, Japan. The band’s name translates to “geometric patterns”. Founded in the summer of 2012 by Go Kurosawa and Tomo Katsurada.