it’s got to be love

what a beautiful playlist to listen to relax your mind and soul

tumblr_lkelj5jl3w1qaa67q

1. 00:00:00 Roy Fox & His Orchestra It’s Got To Be Love
2. 00:03:04 Frank Sinatra Embraceable You
3. 00:06:26 Fred Astaire Cheek To Cheek
4. 00:09:47 Hildegarde Life Begins When You’re In Love
5. 00:12:58 Al Bowlly Love Is The Sweetest Thing
6. 00:16:21 Dick Powell I’ve Got My Love To Keep Me Warm
7. 00:19:17 Connie Boswell With All My Heart
8. 00:22:22 Ambrose There Isn’t Any Limit To My Love
9. 00:25:23 Noel Coward Dearest Love (with piano)
10. 00:28:28 Dorothy Lamour That Sentimental Sandwich
11. 00:31:35 Ted Weems Until Today
12. 00:34:51 Jack Hylton Goodnight My Love
13. 00:38:12 Jessie Matthews Trusting My Luck
14. 00:40:52 Tony Martin When Did You Leave Heaven?
15. 00:43:48 Bing Crosby You Made Me Love You
16. 00:46:53 Carroll Gibbons It Had To Be You
17. 00:49:36 Hutch You Are My Love Song
18. 00:52:45 Roy Fox Sweet Someone
19. 00:55:58 Dinah Shore The Nearness of You
20. 00:58:40 Geraldo PS I Love You
21. 01:02:09 Frances Langford The Man I Love
22. 01:05:09 Dick Haymes Long Ago And Far Away

and this is Fred Astaire performing “cheek  to cheek” in the movie Top Hat (1935)

my lucky charm

From the 1956 film “Meet Me in Las Vegas”, Mitsuko Sawamura and Dan Dailey. Super sweet song to listen to under Balsamic moon tonight 🌘  🙂

kom no

mariwp1

Mari Persen, I found her few weeks ago while randomly wandering around Soundcloud. Kom No, her latest single has captivated my heart at first listen with its enormously dramatic swing and element of classical golden age era hollywood musicals with little bit film-noir mood. Since Persen always felt attracted to old movies from year of 30’s, 40’s and 50’s.

you may also love to check her self titled album on iTunes Store https://itunes.apple.com/id/album/mari-persen/id329088665

a1215919874_10

istirahatlah kata-kata

18a8686c-04f8-4cf2-9b14-704f18136c3a_169-1

Film yang ditayangkan pertama kali di Locarno International Film Festival di Swiss ini pada pertengahan 2016 lalu, dan pada akhirnya mulai tanggal 19 januari 2017 film yang mengisahkan tentang seorang penyair bangsa ini dihadirkan di beberapa kota besar di Indonesia.

Ada rasa kelegaan seusai menonton film ini, kelegaan karena biografi film Wiji Thukul diolah, dimasak, dan disajikan dengan kesederhanaan yang rapih dan cukup. Tidak kurang, tidak lebih. Rasa cukup yang terbayarkan setelah menantikan film ini, yang sempat terdengar isu tidak bisa ditayangkan di tanah air atau akan ada banyak potong memotong dari lembaga sensor.

‘Istirahatlah Kata-Kata’ mengisahkan Wiji Thukul yang kita tahu beliau adalah seorang penulis yang puisinya banyak menyiratkan dan meneriakkan hak rakyat terutama kaum buruh dan warga miskin di era orde baru, namun film ini hanya menyajikan satu atau dua scene saja yang menunjukkan seorang Wiji tengah menulis puisi-puisi perjuangan, selebihnya puisi-puisi beliau ditampilkan menjadi narasi-narasi yang membuat film ini terasa semakin puitis dan emosional.

Yosep Anggi Noen sang sutradara menghadirkan banyaknya shot panjang yang menjadikan film ini terasa teatrikal. Di beberapa adegan, kita seperti berada di depan sebuah panggung teater dan menyaksikan para aktor tampil dengan beberapa dialog spontanitasnya mengalir begitu saja.

Film ini ditutup dengan kita dibuat merasakan absensi Wiji yang tidak hilang begitu saja, kita seperti dibuat sadar secara perlahan namun kita juga dibuat ikut merasakan kepiluan dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan dengan ketidak jelasan akan ada dan tiada, hidup atau mati seorang suami, bapak, teman dan pejuang. Fajar Merah sang putra Wiji menyanyikan lagu ‘Bunga dan Tembok’ bersama bandnya ‘Merah Bercerita’ dan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) sebagai lagu penutup.

Buat saya film ini seperti teh tawar hangat diantara kemegah-megahan film biografi Indonesia yang begitu-begitu saja, Istirahatlah Kata-Kata membuat saya mencoba mengenal kembali sosok Wiji Thukul yang membayar mahal untuk demokrasi dan kebebasan bersuara yang kita dapat di negara ini sekarang. Terima kasih di manapun engkau berada nyanyian akarmu akan terus menguat di tanah ini 🙂

*related post: bunga dan tembok , istirahatlah kata-kata

mild high club

mildhighclub

Spacey things with smooth psychedelic, jazz and funk touchie. Mild High Club would make you want to listen the “Skiptracing” album while dream of the imagery sequences in observatory’s planetarium.

 

surrey with the fringe on top

I just can’t stop listening to this song. Am so deeply in love Dearie. ker-plop!

 

istirahatlah kata-kata

getget (1)get (2)

‘Istirahatlah Kata-Kata’ or its international title ‘Solo, Solitude’, a story tells about a missing poet, Wiji Tukul. Whose words are often yelled proudly by the crowd during political protests. He who was forced to leave his family after being targeted by the government following anti-Suharto, pro-democracy protests in July 1997. In May 1998, Wiji Thukul is declared missing, a month before Suharto is deposed by his own people.

The movie was screened for the first time in Locarno International Film Festival, Locarno, Swiss. Yosep Anggi Noen as a director, he mentioned that it will be screened into Indonesia movie scene soon.

*related post: bunga dan tembok